25 July 2007

Kristania

Kristania, kau kuartikan buah cinta. Akan kutambahkan pula kerelaan jika ruang masih tersisa. Izinkanku bertutur tentang kata cinta dan rela yang melatarimu. Sekalipun aku harus menapaktilasi berhasta-hasta jalan yang tak ingin lagi kami pijak. Kristania, aku merasa paling kenal ibundamu, dulu. Dan tentangnyalah kita akan berkisah.

Bolehlah kusebut kematian sebagai awal dari semua. Kematian dua orang yang dulu kami jadikan penjuru hidup. Kadang kupikir, andai ajal pernah bertanya, tentu akan kujawab tidak. Tapi sampai kapan pun, dia tetap akan jadi perangkat ilahi untuk mengakhiri kehidupan bukan? Tanpa kompromi. Tak pernah bisa ditawar. Begitulah, sehingga kami – aku, ibundamu, dan seseorang lagi – menjadi anak-anak rajawali yang lelah tunggu induk di senja temaram. Mereka tak kunjung pulang, Kristania. Lekat dalam ingatan, betapa ibumu terkulai hancur ketika kami kepal dua genggam tanah basah untuk menghantarkan dua yang tiada yang sebentar lagi berkalang tanah. Kubisikkan kepada ibundamu bahwa Tuhan itu baik. Hanya isak yang menyayat yang ia perdengarkan. Selebihnya, air mata yang penghabisan.

Tak lama kami berduka, Kristania. Waktu berleha adalah barang mewah bagi orang kecil macam kami. “Hidup harus terus bergulir,” kataku suatu kali. Dan kami pun berpencar. Aku mengejar mimpi menjadi cendekia di Parij van Java. Ibundamu melempar dadu di ibukota. Hari berganti, tapi aku tahu dia tak sekuat yang dikatakan mulutnya. Berkali-kali dia bicara di tengah malam, dengan tangis yang tetap membuat miris. “Mengapa kita ditinggalkan begini?” kalimatnya patah-patah di ujung sana, menggambarkan hatinya. “Tuhan itu baik,” kataku. Dijawabnya dengan isak.

Sekarang akan kuceritakan padamu dosaku, Kristania. Aku takkan lagi berdebat. Suatu kali, aku temui dia di Jakarta. Wajahnya tak lagi layu. Ada keriangan meningkahi bicaranya. Aku pun senang bukan kepalang. Paling tidak sampai dia bercerita tentang seorang lelaki dalam hidupnya. Yang datang dengan penghiburan, yang membantunya melupakan kegetiran, yang menolongnya menatap harapan. Aku mencintainya sekalipun dia berbeda iman, katanya, dan aku memohon restumu. Kau tahu, Kristania, bahagiaku seketika menjadi berang. Tak boleh, ujarku. Lalu dari mulutku mengalir berbagai kutipan ayat kitab suci yang menghakiminya seperti pesakitan. Dia begitu hancur, tapi aku tak sedikitpun menaruh peduli.

Aku saudaranya, Kristania. Tapi aku bertindak sebagai hakimnya, atas nama kepatutan dan keutuhan keluarga. Kau bayangkan, sampai pada suatu titik aku mengancam, dia boleh pilih cintanya tapi kehilangan dua saudara. Aku yang kataku menghormati pilihan bebas. Aku yang mengaku mendukungnya. Aku kini mengancamnya. Belum cukup, Kristania. Aku berhenti bicara padanya. Dia hancur. Olehku.

Lalu dia tinggalkan Jakarta. Dalam ancaman keluarga, dia ucapkan janji untuk melupakan cintanya. Hari berganti, dan dia pun menemukan kembali cinta. Kali ini tak lagi berbeda. Di hatiku ada sebentuk kelegaan perihal ketidakberbedaan ini. Namun, dengan itu pula aku dihantui satu pertanyaan: adakah dia bahagia, atau sekadar terpaksa? Bahkan sampai dia mengatakan akan berkeluarga, aku tak memiliki kekuatan untuk menanyakannya. Dia pun menikah.

Aku ingat malam-malamku yang penuh kepenatan selepas itu, Kristania. Aku takut sekali membayangkan keputusannya dilatari keterpaksaan belaka. Aku takut dia menggadaikan kebahagiaan demi yang kami sebut kepatutan. Aku takut jika dia dikasari atau tersia-siakan, sementara tanganku kini sudah terlalu jauh jika pun ingin membela. Hanya berdoa siang-malam yang aku bisa.

Aku ingat, suatu malam aku menangis mendengar keluhnya. Suaminya – ayahmu kini, Kristania – kurang memerhatikannya di bulan-bulan pertama. Aku tak tahan. Suaraku bergetar saat kuberikan beberapa saran yang sama sekali tak cukup bijaksana. Andai bisa kugapai, tentu akan kurengkuh dan kulindungi dia. Tapi aku sadar tak bisa begitu. Dia kini milik orang lain. Setelah itu, tak ada lagi kabar darinya. Begitulah hingga lama sekali.

Tak henti aku menguntai kata syukur ketika mendengar berita tentangmu, Kristania. Kala itu kau masih dikandungnya. Lalu, bersama kami hitung hari. Dari jauh aku hanya bisa menanyakan kesehatannya. Kuselingi dengan sumbang saran tanda peduli.

Februari hampir berakhir ketika tangismu terpekik ke dunia. Lagi-lagi cuma kabar yang kudengar dari jauh, bahwa kau sehat, bahwa kau cantik, bahwa kau mungil. Kristania, bahagiaku tak terkira, membayangkan sejarah ibumu yang tak mudah. Kudengar ibumu bahagia menyambutmu Kristania. Kuharap dengan begitu deritanya terbayar. Kuharap dengan begitu dia mengampuniku.

Benar-benar berhati besar perempuan yang menjadi ibumu itu, Kristania. Tak sedikitpun disimpannya benci, apalagi dendam. Dengan lembut ia menyebut arti namamu. “Kristania belum punya nama tengah. Maukah kau mencarikan?” begitu tulus dia terdengar. Mataku berkaca-kaca.

Kristania, aku tak tahu apakah keterpaksaan yang melatarimu. Tapi aku tahu kau buah cinta yang di dalamnya dipenuhi kerelaan. Mei nanti aku ingin melihatmu.



Untuk Kristania yang belum kulihat






No comments: