25 July 2007

Indonesiaku

Kami masuk ke kantor salah satu walikota di Jakarta yang mentereng, membicarakan keinginan kami untuk membantu pemerintah kota mengadakan seminar tentang narkoba bagi kepala-kepala sekolah di wilayahnya. Ruangan di lantai 3 itu hening. Tiga empat perempuan bercengkerama sambil mengunyah cemilan. Di sudut, seorang pria tua membaca koran sambil sesekali menghembuskan asap rokoknya. Tak seorang pun mengingatkannya bahwa ruangan itu ruangan ber-AC. Lama kami menunggu. Akhirnya pria berkulit gelap berpangkat Kasubag yang akan kami temui datang juga, setelah kami hampir berkarat.

"Bagus ini, pihak sekolah memang perlu sekali diberi seminar tentang narkoba," kalimatnya meyakinkanku bahwa dia pegawai negeri bermoral. "Pada dasarnya kami sebagai pemerintah kota siap membantu...."

Aku tahu aku harus menanti kata 'tapi'.

"Tapi, ya, semuanya kan pasti ada biaya," yang kutunggu akhirnya datang juga.

"Pembicara kami yang bayar, snack dan makan siang kami yang beli, spanduk kami yang cetak, seminar kit kami yang perbanyak. Bapak cuma perlu sediakan tempat dan mengundang pihak sekolah di wilayah Bapak," temanku mencoba membuka mata pegawai negeri itu bahwa kalau mau jujur, mereka cuma modal dengkul.

"Ya...ya...ya, saya mengerti. Tapi, Anda tahu sendirilah. Program tahunan kami kan sudah disusun rapi. Kalau ada program tambahan di luar yang sudah disusun, kami juga kan yang repot."

"Lho, ini kan positif, Pak. Sekolah perlu sosialisasi tentang narkoba. Kami membantu Bapak kan?"

"Hahahaha...,"

"Lantas?" temanku agak kesal.

"Biaya kebersihan gedung 600 ribu, administrasi undangan 300 ribu, peserta seminar juga biasanya minta uang transport paling tidak 20 ribu perorang."

"Sudah?"

"Sebelum hari H, kita juga harus rapat koordinasi dengan beberapa bagian terkait."
Kami benar-benar bingung. Seberapa pentingnya rapat koordinasi untuk seminar 2 jam sesederhana ini?

"Oo.., penting itu. Pokoknya yang hadir paling tidak 10 oranglah."

"Konsumsi?"

"Hahahaha...," tawanya jawaban yang terlalu jelas.

"Sudah, Pak?"

"Sementara sudah. Tapi sementara lho. Bisa saja ada perubahan."

"Baik. Kami akan rapatkan permintaan-permintaan dana tadi di kantor," kilah temanku.

"Oke, uangnya nanti melalui saya saja. Saya yang akan atur. Uang snack dan makan siang juga bisa diserahkan ke kami. Nanti kami yang belikan," katanya lagi.

"Kami bicarakan dulu, Pak."

"Lantas, sambutan untuk walikota dan format undangan tolong Anda yang buat. Nanti saya tinggal ketik."

"Baik, Pak."

Kami pun pulang setelah menjabat tangannya. Ketika kami keluar menuju lift, ia terus mengikuti kami. Wajahnya agak masam ketika pintu lift tertutup dan kami hilang dari pandangan. Mengharap salam tempel? Entahlah. Keluar dari kantor itu, aku tersadar, ini Indonesia.


No comments: