08 October 2008

Kurz, Henri, dan Cinta

Joe Simpson begitu memukau sore ini dengan The Beckoning Silence-nya yang pedih. Dengan suara yang terkadang patah-patah dan seperti mencari keyakinan, Joe meretas kisah Tony Kurz yang malang, yang mencoba menaklukkan pucuk Eiger di tahun 1936, dan gagal. Bagian akhir film itu begitu menyayat. Kurz bergantung di seutas tali setelah sebuah badai salju yang menggila. Seorang temannya di ujung tali di atas, terikat, mati. Seorang lagi di ujung tali lainnya, tergantung, mati. Kurz di tengah. Aku teringat pada mata kail yang sering orang ikatkan lebih dari satu di seutas senar. Tim penyelamat akhirnya datang. Tapi badai yang belum berhenti mengamuk membuat penyelamatan mustahil. Mereka menyuruh Kurz menunggu di atas sana, menanti pagi tiba.

Pagi yang membekukan. Tangan kiri Kurz sudah membiru karena frostbite. Dia di antara sadar dan tidak. Tapi adegan-adegan akhir itu benar-benar menunjukkan betapa manusia diberkahi dengan naluri untuk bertahan hidup hingga titik penghabisan. Semua upaya yang mungkin telah dilakukan, tapi akhirnya hidup Kurz berakhir di sebuah simpul yang menghambat. "Selesai sudah," katanya dalam bahasa Jerman yang terdengar rapuh. Dan mati.

Ya, Kurz mungkin mati, tapi aku sangat yakin dia telah mati dengan puas. Dia mati setelah berhasil mencapai suatu titik yang belum pernah dicapai siapa pun dalam pendakian menuju puncak Eiger. Pencapaian seringkali punya harga. Mahal. Dan tak banyak yang mau membayar. Aku?

Tapi dalam perjalanan menuju Blackheath yang sunyi, entah kenapa yang menari-nari di kepalaku justru puisi Adrian Henri yang dibacakan Mark Beasley siang tadi dalam kuliahnya tentang revolusi oleh puisi di Liverpool. Mark yang suka bersiul. Mark yang belum juga mengganti bajunya yang kemarin. Mark yang seperti tahu segalanya tentang apa pun. Mark yang benci siswa terlambat, tapi selalu terlambat masuk kelas. Mark yang kuhormati dalam diskusi.

Aku seperti satu-satunya orang yang terpukau oleh topik yang dibicarakan Mark dengan bersemangat. Gadis-gadis Belgia dan Rusia di sekelilingku sibuk mencoret-coret hand-out kuliah. Muka-muka mereka yang seperti baru kembali dari bar, jelas tak menunjukkan minat terhadap kuliah, apalagi kuliah tentang puisi yang punya daya gubah. Dalam hati mungkin mereka sedang berkata, "Yeah, whatever.."

Dan Mark bicara banyak soal lirik-lirik Beatles yang lebih mirip puisi dibanding lagu-lagu picisan di zamannya. Tentang perubahan yang dibawa lirik-lirik itu dalam kehidupan sosial. Ah..., aku bersemangat. Lupa aku pada sereal yang hampir membuatku muntah pagi tadi. Dan setelah kuliah yang bagiku mencerahkan itu, aku dan Mark terlibat dalam diskusi yang pintar. Sempat pula kami membandingkan puisi Adrian Henri dengan definisi cinta Franz dalam The Unbearable Lightness of Being-nya Milan Kundera yang sedang kubaca. Ah..., rasanya tak perlu lagi aku makan siang.

Dan malam ini, di kereta yang dingin menuju Blackheath, yang kuingat cuma larik-larik puisi Adrian Henri, Love Is. Masih dengan sebuah lubang yang menganga di rongga dada. Juga sepi yang seperti tak ingin turun di stasiun Lewisham yang buram. Love is...



Love is...
Love is feeling cold in the back of vans
Love is a fanclub with only two fans
Love is walking holding paintstained hands
Love is.
Love is fish and chips on winter nights
Love is blankets full of strange delights
Love is when you don't put out the light
Love is
Love is the presents in Christmas shops
Love is when you're feeling Top of the Pops
Love is what happens when the music stops
Love is
Love is white panties lying all forlorn
Love is pink nightdresses still slightly warm
Love is when you have to leave at dawn
Love is
Love is you and love is me
Love is prison and love is free
Love's what's there when you are away from me
Love is...



Ah..., tahu apa aku?

1 comment:

Unknown said...

Niel, aku jadi ingat Sajak Kecil Tentang Cinta (Sapardi):

mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu harus menjelma aku

Musikalisasi puisi ini bagus, Niel.