Janganlah kau merengut, Karenin. Aku bisa apa ketika pohon apel bengkok di pusaramu meranggas? Tak ubahnya tanduk rusa, kini dia menjelma payungmu. Kita tak bisa melawan musim bukan?
Karenin, aku menjenguk bukan sengaja. Apalagi tak rela kau berhenti terjaga. Aku telah mencari orang lain, tapi yang kudapati hanya perbuatan bersikukuh, bersitegang, dan penyimpulan demi penyimpulan. Tak kutemukan yang sesabar kau, Karenin. Sungguh! Bukan, kukira ini bukan masalah pelik. Malah aku curiga, ini cuma cara memelik-melikkan perkara. Baiklah, kau dengar aku bercerita.
Pernahkan kau alami malam yang sedetik lalu pekat tiba-tiba benderang bak siang? Kukira tidak. Tapi aku, Karenin, di suatu malam bulan Oktober yang menggigil, aku merasakannya. Terselip di kepadatan seribu pasang mata saat itu, aku mengintip langit dalam diam. Lalu terdengar letupan di kejauhan. Dan seribu wajah tengadah. Ledakan itu di bawah, tapi di langit seperti hujan meteor. Bukan pijar-pijar yang menyeramkan, tapi sinar-sinar memesona. Aneka warna, Karenin. Ada yang merah dan membentuk hati di langit. Pasti akan jadi kesukaanmu. Aku suka yang berputar-putar tapi tanpa gelegar. Bocah-bocah di depanku berceloteh tentang kembang api mana yang mereka puja. Aku begitu riang dalam sunyiku, Karenin. Tanpa sadar mulutku menganga. Malam seperti melompat ke siang.
Tapi seperti segala hal, keterpukauanku segera berakhir, Karenin. Setelah setengah jam, gulita kembali meraja. Sejak itu, aku selalu dihantui perasaan berakhir. Apa saja, yang kusuka pun yang kubenci, akan menemui akhirnya. Kebebasan yang kukira kugenggam di negeri jauh ini, segera mati oleh pikiran-pikiran tentang pulang. Perasaan tak diburu-buru dan keleluasaan untuk memikirkan apa saja lebih lama, dihantar ke ajal oleh rekaan-rekaan tentang tenggat. Keindahan-keindahan yang ditangkap mata di tanah ini, berakhir ketika raga pindah nanti. Dugaan-dugaan terbaik tentang kekasih, mungkin sirna ketika nanti kami saling menatap mata. Udara dingin ini akan berhenti ketika mendekat ke khatulistiwa. Hanya satu yang tak kunjung berakhir, Karenin: pikiran-pikiran tentang keberakhiran. Dan semua disulut oleh kembang api yang, setelah setengah jam, henti.
Karenin, beri tahu aku satu saja yang tak akan berakhir. Bisikkanlah supaya segera kukejar. Tapi memang tak ada kan, Karenin? Semuanya akan menemui perhentian. Lalu, apa nasibku jika perasaan ini terus memberondong? Tak bisakah kau ajari aku mumifikasi, agar bisa kuawetkan semua yang kusuka di sini lalu kubawa serta? Karenin, suatu kali aku mendengar seseorang bernyanyi. Tentang kekuatan memori, yang katanya bisa membawa yang lalu hidup kembali. Itulah mengapa Yesus meminta diingat ketika murid-murid makan roti dan minum anggur. Itulah mengapa penjahat di Golgota memohon untuk diingat ketika sang Kristus telah menjejak Firdaus. Itulah juga yang kini kulakukan, Karenin, merekam semuanya dalam ingatan. Sebaik-baiknya, serinci-rincinya, sedalam-dalamnya. Supaya kelak ketika semuanya berakhir, aku bisa menghidupkannya dan sadar bahwa semuanya pernah bermula, meski tak lama. Tapi aku tahu benar, kenangan hanya maya. Aku tak akan pernah lagi melihat dan membauinya seperti kala aku di dalamnya. Dan karenanya aku takkan pernah dipuaskan. Seperti saat ini, Karenin, ketika aku mengaduh padamu. Kau yang senantiasa hidup namun tak lagi ada. Dahulu mungkin kau akan bicara, tapi kini apa yang pusara bisa kata?
Karenin, setelah kembang api akhirnya padam malam itu, aku hanya bisa menetapkan hati, bahwa aku akan benar-benar hadir dalam tindakan apa pun yang kupilih, dalam saat apa pun yang kujejak. Agar ketika semuanya berakhir, aku tak menyimpan sesal.
Tak usahlah kau gusar, Karenin. Semuanya akan berakhir, juga musim gugur ini. Kelak daun-daun hijau kembali, seperti sediakala. Dan aku masih akan ke sini, ketika pikiran tentang keberakhiran ini pun berakhir, dan keluh tentang entah apa lagi berawal. Kuharap kau tak bosan.
06 November 2008
02 November 2008
Dulce et decorum est
Knock-kneed, coughing like hags, we cursed through sludge,
Till on the haunting flares we turned out backs,
And towards our distant rest began to trudge.
Men marched asleep. Many had lost their boots,
But limped on, blood-shod. All went lame, all blind;
Drunk with fatigue; deaf even to the hoots
Of gas-shells dropping softly behind.
Gas! GAS! Quick, boys!--An ecstasy of fumbling
Fitting the clumsy helmets just in time,
But someone still was yelling out and stumbling
And flound'ring like a man in fire or lime.--
Dim through the misty panes and thick green light,
As under a green sea, I saw him drowning.
In all my dreams before my helpless sight
He plunges at me, guttering, choking, drowning.
If in some smothering dreams, you too could pace
Behind the wagon that we flung him in,
And watch the white eyes writhing in his face,
His hanging face, like a devil's sick of sin,
If you could hear, at every jolt, the blood
Come gargling from the froth-corrupted lungs
Bitter as the cud
Of vile, incurable sores on innocent tongues,--
My friend, you would not tell with such high zest
To children ardent for some desperate glory,
The old Lie: Dulce et decorum est
Pro patria mori.
Wilfred Owen
01 November 2008
Apa pun lagi
di stasiun Victoria yang sekelam sketsa.
Seperti serpih kulit gandum yang diterbangkan angin
dari bibir alat penampi.
Bulir-bulirnya putih,
meluncur mencair ketika menyentuh bibirku.
Dengan mulut menganga
kucoba menangkap sekepal,
tapi sekuku pun tidak,
apalagi segumpal.
Ke mana kau?
Cepatlah, sebelum gegas mereka.
Usah takut udara yang beku.
Juga digentarkan angin yang menciutkan belulang.
Ada tanganku untuk kau pegang.
Kuhembuskan uap hangat,
kapan pun jemarimu mengerang.
Ke mari, ajarku menari.
Gerak apa saja,
tak seirama pun tak apa.
Berhitung kita hingga tiga,
lalu langkah menyamping sehasta dua.
Kau ingin aku bersenandung?
Wintersong kudendangkan ke telingamu,
setengah berbisik.
Menari kita, berputar-putar.
Tak ada orang lain,
tanpa silam, tak ingat esok.
Sampai mata kita terpejam,
ke buaian salju membenam.
Dan malam ini,
kita tak ingin apa pun lagi.
26 October 2008
Bukan?
"Aku tak berharap untuk dimengerti. Lakukan apa pun yang membuatmu nyaman."
[apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [bukan?]
[apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [apologetika?] [bukan!] [bukan?]
terima kasih tak terhingga kepada surel seorang teman
19 October 2008
"Karenin, aku dekat."
Setiap kali aku terkenang padamu, duduk diam aku di bawah pohon apel itu, mengingat-ingat apa yang telah kau ajarkan pada kami di dalam kebisuan dan keberserahanmu. Kau yang tak punya kehendak, kau yang tak memendam daya gugat, kau yang riang oleh pengulangan-pengulangan.
Aku bersyukur telah belajar dari mencintaimu, bahwa hanya cinta yang tak meminta pun tak berharaplah yang benar-benar bisa disebut tulus. Jika yang dicinta hanya teman, di mana baiknya? Jika kita mencintai orang hanya agar kita "diizinkan" ada, tak layak itu disebut cinta. Juga bukan cinta jika dasarnya membutuhkan semata. Kita takkan pernah menetapkan dengan pasti, bagian mana dari hubungan kita dengan orang lain yang merupakan hasil dari emosi-emosi kita - cinta, antipati, amal-kasih, atau kebencian - dan bagian mana yang ditentukan oleh permainan kuasa yang terus-menerus antara kita dan orang-orang itu. Kebaikan manusia yang sejati, dan segala kemurnian dan kebebasannya, hanya akan terwujud ketika sang penerima kebaikan tak punya kuasa.
Karenin, siapa lagi yang akan memberiku petuah kini. Sepeninggalmu, aku dirundung penyesalan bahwa dalam hidupku aku telah mencintai dengan menarik. Padahal mencintai juga berarti kadang merelakan diri ditarik, juga sering mengulur. Aku kisut dirundung sesal tentang ini. Hingga akhirnya di lantai dansa, aku dan dia angkat bicara - diiringi denting-denting piano yang serasa mabuk dan terhuyung - siapa menarik siapa, siapa mengurung siapa, siapa menyakiti siapa.
Aku yang menginginkannya menjadi tua, seekor kelinci. Tapi kini aku memikirkannya kembali dalam makna baru. Apa arti menjadi kelinci? Artinya hilang segala kekuatan. Tak seorang pun lagi lebih kuat dari yang lain. Itulah sebabnya kami bisa saling dekap dalam perasaan aman.
Dalam langkah-langkah yang lemah tapi padu, kami sadar sesungguhnya kami saling tarik, ke dalam apa yang kami sebut sebagai kesedihan. Tapi anehnya malam itu kami menari sambil menyunggingkan senyum yang paling indah dalam kehidupan kami, karena kami sadar, apa pun yang telah kami lakukan dan lewati, kami kini masih berdua, hanya berdua, dan bahagia. Ya, kesedihan yang ganjil dan kebahagiaan yang janggal. Kesedihan itu berarti: kami telah tiba di stasiun terakhir. Kebahagiaan itu: kami masih bersama. Kesedihan itu bentuk, kebahagiaan isi. Kebahagiaan mengisi ruang kosong dalam kesedihan. Dan kami akan berdansa hingga piano tak lagi bersuara, bahkan makhluk-makhluk nocturnal pun telah henti bicara.
Karenin, kapan pun kau merindu, aku di sini. Dekat.
Setelah akhirnya menuntaskan The Unbearable Lightness of Being pagi ini
13 October 2008
Leaving Home
Hanya ada Julie dan Paige minus ayah di sebuah rumah mungil berlantai dua berkamar tiga yang keberantakannya masih bisa diterima mata. Juga tiga kucing persia - Bobby, Batton, dan entah siapa - yang, kata Julie, seperti membentuk dua blok yang berseberangan, meski tak saling cakar. Aku tak pernah ingin menanyakan kepada Julie perihal ketidakhadiran ayah ini. Terlalu pribadi, pikirku.
Julie gemar nonton The X Factor, ikut terharu oleh kisah-kisah finalisnya yang lebih sering klise. Kecintaannya pada tanah air barangkali tergambar dari kegembiraannya yang meluap ketika Inggris melibas Kazakstan 5-1 pada laga kualifikasi Piala Dunia kemarin. Dia staf computer maintenance di sebuah universitas kecil dekat sini. Julie tipe ibu yang mengandalkan microwave, oven, dan mesin cuci piring. Selalu meluangkan waktu untuk bertanya, bagaimana hariku, bagaimana pelajaranku, apakah aku sudah bisa online atau tidak. Peduli.
Paige seorang remaja yang sedang peduli pada gaya dan warna rambut. Dia tahan berjam-jam di telepon. Kadang-kadang juga terlihat sedang mencoret-coret buku gambar yang besar.
Hubungan mereka? Baru mulai terang pada hari ketiga aku di rumah mungil itu. Ada suara-suara kudengar di ruang tv di bawah, tapi bukan membahas film atau opera sabun yang diputar malam itu. Nada suara Julie meninggi, sementara Paige selalu menyahut cepat di setiap akhir kalimat ibunya itu, dengan suara yang disengaja untuk menambah sebal. Tagihan telepon jadi pasal. Paige kecanduan menelepon. Julie pusing, tagihan mau dibayar dengan apa. Lalu si anak lari ke kamarnya di lantai atas dengan langkah yang sengaja dibuat berat agar bising. Si ibu terus memanggil. Dia belum selesai bicara, katanya. Entah jam berapa mereka berhenti. Aku terlelap sebelum gencatan senjata dicapai.
Hari lain soalnya adalah Paige yang bolos sekolah. Dia tidak suka sekolahnya, katanya. Julie mencecar retoris, Paige mau jadi apa kelak kalau malas sekolah. Yang ditanya malah mengancam minggat. Kepedulian seringkali memang dipersepsi berbeda.
Tadi malam topiknya adalah Paige yang pulang larut tapi tak bilang. Tapi perang tak berlarut karena The X Factor yang tayang langsung malam itu mengalihkan perhatian Julie. Paige selamat di kamarnya.
Tapi pagi ini ketika aku bangun, kudengar Paige yang mengingatkan ibunya untuk mandi karena air di bathtub sudah penuh. Suaranya damai sekali. Tak berapa lama, Paige remaja memanggil ibunya kembali dengan suara yang sama, menanyakan soal padu padan baju – sepertinya dia mau ke pesta. Julie menyarankan ini dan itu, yang ditanggapi putrinya dengan tawa. Saat Paige tengah mematut-matut diri di depan cermin, sempat pula dia berteriak kepada Julie yang sedang menonton The X Factor di kamar, finalis mana membawakan lagu apa. Julie menjawab dengan setengah berteriak pula.
Ah…, begitulah ibu, anak, dan cinta. Kalau yang ketiga hadir mengikat, ancaman minggat hanya akan jadi bunga-bunga pencerah hari. Di penghujung malam, si pengancam toh akan mengendap-endap naik ke kamarnya dan, dengan perasaan menyesal, mengintip ibunya yang pura-pura tidur, padahal menahan senyum mendengar buah hatinya kembali. Ibu yang menyumpah dirinya sudah tak tahan lagi, akan jumpalitan ketika mendapati anaknya kehilangan selera makan karena diserang sakit.
Tapi sayangnya ada yang tak begitu. Banyak anak yang lari dari orang tua yang telah membesarkannya tanpa sedikit pun memikirkan diri sendiri. Atas nama kemandirian, atas nama kemajuan zaman, atas nama kesenangan, atas nama kebebasan.
Seperti gadis belia yang menyelinap kala pagi meninggalkan ayah dan ibunya dalam lagu Beatles, She’s Leaving Home, yang kami bahas dalam kuliah kami di suatu pagi. Sepucuk suratnya meninggalkan sekelumit tanda tanya yang pedih di hati mereka – apa salah kami, apa yang kurang, mengapa?
Sore ini aku duduk di atas rumput di sebuah kolam di dekat Blackheath Village yang ramai di akhir pekan, menyelesaikan paruh akhir sebuah buku yang tak kunjung kelar kubaca. Anak-anak kecil melemparkan remah-remah roti ke arah angsa-angsa yang menanti dengan gembira di tengah kolam. Sang ibu tak henti tersenyum menyaksikan tingkah anak-anaknya yang lucu.
Perhatianku tiba-tiba teralih ke dua pasangan paruh baya yang mendorong seorang perempuan renta di kursi roda. Dia pasti ibu dari salah satunya. Mereka mendorongnya ke tepi kolam. Sang istri menjelaskan pemandangan di kolam itu, sedikit berbisik di dekat telinga sang ibu yang telah rabun agaknya. Lalu perempuan itu menaruh sejumput kacang di telapak tangan sang ibu untuk dia kunyah sesekali. Perempuan renta itu tak sepatah kata pun bicara. Dia hanya menatap lurus ke arah angsa-angsa yang berebut makanan. Lalu ketika tempat duduk mereka diterpa sinar matahari yang terik, mereka mendorong si renta ke tempat yang teduh dan mulai lagi mengajaknya bicara, sekalipun dia hanya diam.
Aku berhenti membaca, didera bayangan-bayangan yang membuatku merindu, seketika teringat lagu Beatles itu, She’s Leaving Home.
Julie gemar nonton The X Factor, ikut terharu oleh kisah-kisah finalisnya yang lebih sering klise. Kecintaannya pada tanah air barangkali tergambar dari kegembiraannya yang meluap ketika Inggris melibas Kazakstan 5-1 pada laga kualifikasi Piala Dunia kemarin. Dia staf computer maintenance di sebuah universitas kecil dekat sini. Julie tipe ibu yang mengandalkan microwave, oven, dan mesin cuci piring. Selalu meluangkan waktu untuk bertanya, bagaimana hariku, bagaimana pelajaranku, apakah aku sudah bisa online atau tidak. Peduli.
Paige seorang remaja yang sedang peduli pada gaya dan warna rambut. Dia tahan berjam-jam di telepon. Kadang-kadang juga terlihat sedang mencoret-coret buku gambar yang besar.
Hubungan mereka? Baru mulai terang pada hari ketiga aku di rumah mungil itu. Ada suara-suara kudengar di ruang tv di bawah, tapi bukan membahas film atau opera sabun yang diputar malam itu. Nada suara Julie meninggi, sementara Paige selalu menyahut cepat di setiap akhir kalimat ibunya itu, dengan suara yang disengaja untuk menambah sebal. Tagihan telepon jadi pasal. Paige kecanduan menelepon. Julie pusing, tagihan mau dibayar dengan apa. Lalu si anak lari ke kamarnya di lantai atas dengan langkah yang sengaja dibuat berat agar bising. Si ibu terus memanggil. Dia belum selesai bicara, katanya. Entah jam berapa mereka berhenti. Aku terlelap sebelum gencatan senjata dicapai.
Hari lain soalnya adalah Paige yang bolos sekolah. Dia tidak suka sekolahnya, katanya. Julie mencecar retoris, Paige mau jadi apa kelak kalau malas sekolah. Yang ditanya malah mengancam minggat. Kepedulian seringkali memang dipersepsi berbeda.
Tadi malam topiknya adalah Paige yang pulang larut tapi tak bilang. Tapi perang tak berlarut karena The X Factor yang tayang langsung malam itu mengalihkan perhatian Julie. Paige selamat di kamarnya.
Tapi pagi ini ketika aku bangun, kudengar Paige yang mengingatkan ibunya untuk mandi karena air di bathtub sudah penuh. Suaranya damai sekali. Tak berapa lama, Paige remaja memanggil ibunya kembali dengan suara yang sama, menanyakan soal padu padan baju – sepertinya dia mau ke pesta. Julie menyarankan ini dan itu, yang ditanggapi putrinya dengan tawa. Saat Paige tengah mematut-matut diri di depan cermin, sempat pula dia berteriak kepada Julie yang sedang menonton The X Factor di kamar, finalis mana membawakan lagu apa. Julie menjawab dengan setengah berteriak pula.
Ah…, begitulah ibu, anak, dan cinta. Kalau yang ketiga hadir mengikat, ancaman minggat hanya akan jadi bunga-bunga pencerah hari. Di penghujung malam, si pengancam toh akan mengendap-endap naik ke kamarnya dan, dengan perasaan menyesal, mengintip ibunya yang pura-pura tidur, padahal menahan senyum mendengar buah hatinya kembali. Ibu yang menyumpah dirinya sudah tak tahan lagi, akan jumpalitan ketika mendapati anaknya kehilangan selera makan karena diserang sakit.
Tapi sayangnya ada yang tak begitu. Banyak anak yang lari dari orang tua yang telah membesarkannya tanpa sedikit pun memikirkan diri sendiri. Atas nama kemandirian, atas nama kemajuan zaman, atas nama kesenangan, atas nama kebebasan.
Seperti gadis belia yang menyelinap kala pagi meninggalkan ayah dan ibunya dalam lagu Beatles, She’s Leaving Home, yang kami bahas dalam kuliah kami di suatu pagi. Sepucuk suratnya meninggalkan sekelumit tanda tanya yang pedih di hati mereka – apa salah kami, apa yang kurang, mengapa?
Sore ini aku duduk di atas rumput di sebuah kolam di dekat Blackheath Village yang ramai di akhir pekan, menyelesaikan paruh akhir sebuah buku yang tak kunjung kelar kubaca. Anak-anak kecil melemparkan remah-remah roti ke arah angsa-angsa yang menanti dengan gembira di tengah kolam. Sang ibu tak henti tersenyum menyaksikan tingkah anak-anaknya yang lucu.
Perhatianku tiba-tiba teralih ke dua pasangan paruh baya yang mendorong seorang perempuan renta di kursi roda. Dia pasti ibu dari salah satunya. Mereka mendorongnya ke tepi kolam. Sang istri menjelaskan pemandangan di kolam itu, sedikit berbisik di dekat telinga sang ibu yang telah rabun agaknya. Lalu perempuan itu menaruh sejumput kacang di telapak tangan sang ibu untuk dia kunyah sesekali. Perempuan renta itu tak sepatah kata pun bicara. Dia hanya menatap lurus ke arah angsa-angsa yang berebut makanan. Lalu ketika tempat duduk mereka diterpa sinar matahari yang terik, mereka mendorong si renta ke tempat yang teduh dan mulai lagi mengajaknya bicara, sekalipun dia hanya diam.
Aku berhenti membaca, didera bayangan-bayangan yang membuatku merindu, seketika teringat lagu Beatles itu, She’s Leaving Home.
Wednesday morning at five o'clock as the day begins
Silently closing her bedroom door
Leaving the note that she hoped would say more
She goes downstairs to the kitchen clutching her handkerchief
Quietly turning the backdoor key
Stepping outside she is free.
She (We gave her most of our lives)
is leaving (Sacrificed most of our lives)
home (We gave her everything money could buy)
She's leaving home after living alone
For so many years. Bye, bye
Father snores as his wife gets into her dressing gown
Picks up the letter that's lying there
Standing alone at the top of the stairs
She breaks down and cries to her husband Daddy our baby's gone
Why would she treat us so thoughtlessly
How could she do this to me.
She (We never thought of ourselves)
is leaving (Never a thought for ourselves)
home (We struggled hard all our lives to get by)
She's leaving home after living alone
For so many years. Bye, bye
Friday morning at nine o'clock she is far away
Waiting to keep the appointment she made
Meeting a man from the motor trade.
She (What did we do that was wrong)
is having (We didn't know it was wrong)
fun (Fun is the one thing that money can't buy)
Something inside that was always denied
For so many years. Bye, bye
She's leaving home. Bye, bye
11 October 2008
Menonton Sayap
Mungkin karena tak ada yang kami anggap penting, berguna, bermanfaat untuk kemaslahatan pribadi kami. Segera aku teringat salah satu cerita pendek Gabriel Garcia Marquez yang kami bahas belum lama, A Very Old Man with Enormous Wings. Tentang seorang tua yang ditemukan oleh Pelayo di halaman rumahnya, dia yang compang-camping, payah, dan berkubang lumpur. Tapi dia punya sepasang sayap. Lalu si tua dituduh sebagai malaikat yang datang untuk mencabut nyawa anak Pelayo yang malam itu demam parah, namun urung menyelesaikan misinya setelah dihantam cuaca yang - meminjam kata-kata Marquez - sedih. Si tua pun dikurung. Namun tak lama anak itu pun sembuh. Pelayo berencana melepas si tua bersayap itu ke laut dengan rakit yang diberi persediaan air dan makanan. Dia urung dilepas subuh itu. Orang banyak telah berkerumun menontonnya, seperti menonton binatang sirkus. Mereka terbahak.
Seorang pendeta mencoba menengahi, membuka-buka katekismus yang dia kira akan menjawab pertanyaan tentang malaikat. Dengan naif dia menyapa si tua dalam bahasa Latin yang dia sebut bahasa Tuhan. Dan menyerapah dia menyebut si tua yang tak membalas sebagai iblis. Istri Pelayo seperti Warren Buffett zaman itu, yang sadar peluang dan uang. Dia taruh si tua dalam pagar. Lalu orang-orang harus melempar 5 sen untuk menontonnya. Dan ke situlah datang orang-orang yang lemah jantung, yang sukar tidur hanya karena suara bintang, yang lumpuh, yang pincang. Mereka cabuti bulu pada sayap si tua dan menyentuhkannya pada bagian tubuh mereka yang cacat seraya berharap kesembuhan. Tak sedikit pun dan tak sedetik pun mereka memikirkan si tua, hanya kepentingan pribadi. Tak juga keluarga Pelayo yang kemudian membangun 'istana' dari uang para penonton itu.
Aku membayangkan betapa pragmatisnya manusia, yang selalu memikirkan guna bagi dirinya sendiri, bahkan terhadap malaikat. Kubayangkan si tua bersayap itu jatuh dari langit ke dalam kereta Bakerloo Line yang padat kala pagi. Mungkin kami, ribuan manusia yang bersembunyi tadi, baru akan saling bicara. Tentang apa yang bisa kami manfaatkan darinya, tentang keuntungan yang mungkin kami keruk darinya. Begitu takut aku membayangkan diriku menyentuh kening si tua yang penuh kerut sembari mengucap harap semoga terjadi perbaikan radikal dalam karierku. Barangkali seseorang yang lain akan mencabut sehelai bulu dari sayapnya sambil membayangkan sebuah apartemen mewah di Marble Arch. Yang lain mungkin sekadar menginjak kakinya sambil mengangankan hubungan yang kembali mesra dengan pasangan.
Merinding aku membayangkan betapa manusia bisa jadi begitu pragmatis terhadap apa pun yang dihadapinya. Entah pada hari ke berapa di London, aku memutuskan untuk tidak lagi bersembunyi di balik iPod, buku, apalagi London Lite. Setiap pagi kini aku selalu mencoba menatap muka orang-orang di sekelilingku di kereta, membagi sedikit senyum jika beradu mata dengan mereka yang - sebenarnya dalam hatinya - ingin menyapa. Atau sekadar memiringkan badan di lorong yang sesak agar orang lain bisa lewat, menjawab "no problem at all" ketika mereka mengatakan "thank you". Duduk di sebelah perempuan berkulit legam yang entah kenapa tidak ada seorang pun yang mau menduduki kursi kosong di sebelahnya padahal kereta itu sedang penuh sesak. Aku ingin menatap dengan penuh harap bulu-bulu yang kembali tumbuh di kedua sayap si tua, dan tersenyum melepas dia yang mencoba kembali terbang keluar dari pagar yang mengurungnya, melayang di atas atap-atap rumah tempat para penonton itu bersembunyi.
Subscribe to:
Posts (Atom)